September 29, 2022

Diogold

The Future of Gold and Jewellery Investment

HARGA EMAS TAHUNAN

Spread the love

Kondisi ekonomiglobal yang tidak menentu, tidak stabil dan tidak kondusif seperti saat ini khususnya akibat pandemi Coronavirus Disease 2019 (Covid-19) dan tensi geopolitik AS-China yang tinggi akhirnya membuat harga emas mencetak rekor tertingginya sepanjang masa.

Hari ini di perdagangan spot pukul 17.25 WIB, harga logam mulia itu dibanderol US$ 1.941,8/troy ons. Harga ini sudah melampaui rekor tertinggi sepanjang masa yang sebelumnya dicapai pada 2011 di US$ 1.920/troy ons. Apabila harga tersebut dikonversi ke dalam satuan gram dan mata uang rupiah (berdasarkan nilai pasar saat ini), maka untuk 1 gram emas dibanderol dengan harga Rp904.720/gram.

HARGA EMAS TAHUNAN

HARGA EMAS 36 TAHUN YANG LALU

HARGA EMAS DALAM 5 TAHUN TERAKHIR

Sebagai perbandingan, hari ini Senin (27/7/2020), harga logam mulia produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) untuk kepingan 100 gram per gramnya dibanderol Rp 939.120. Harga pembelian kembali logam mulai Antam hari ini berada di posisi Rp 896.000/gram.

Harga emas jika dalam satuan gram dan mata uang rupiah sejak lima tahun terakhir terus bergerak naik. Tepat lima tahun lalu, berdasarkan perhitungan CNBC Indonesia menggunakan data Refinitiv, harga emas 1 gramnya dibanderol Rp 476.376.

Artinya dengan harga sekarang cuan yang dihasilkan dari membeli emas kala itu dan jika masih disimpan sampai sekarang sebesar 90%. Dalam kurun waktu lima tahun harga emas naik hampir 100%.

Jika di-rata-rata secara sederhana, maka imbal hasil dari memegang aset emas per tahunnya mencapai 17,9%. Jika dibandingkan dengan inflasi yang berada di bawah angka 5% (rata-rata 4,48% per tahun) maka imbal hasil riil dari inflasi masih berada di angka 13%.

HARGA 10 TAHUN KE DEPAN

  • Dalam 10 tahun ke depan oleh Shaun Djie, co-founder Digix. Djie juga mengatakan banyak investor akan memburu emas baik dalam bentuk fisik maupun digital.  Harga emas sangat bullish. Harga emas masih memiliki ruang yang besar untuk menguat. Saat ini kita lihat emas di kisaran US$ 1.750/troy ons, tapi memiliki potensi ke US$ 1.800 atau bahkan ke US$ 1.900/troy ons di kuartal selanjutnya.
  • Dasar prediksi tersebut samas dengan yang banyak analis sebutkan, kebijakan bank sentral suku bunga rendah dan program pembelian aset (quantitative easing/QE) bank sentral global. Kebijakan tersebut membuat perekonomian banjir likuiditas, dan emas diramal akan terus melaju naik 10 tahun ke depan, dengan volatilitas yang tinggi artinya harganya akan mengalami turun naik dengan persentase yang besar, meski tren besarnya masih terus menguat.
    Dalam 10 tahun ke depan, emas masih akan volatile. Emas akan diperdagangkan di antara level US$ 3.000 sampai US$ 4.000/troy ons dalam 10 tahun ke depan. Kita kemungkinan akan melihat emas di level yang belum pernah kita bayangkan sebelumnya melihat seberapa besar likuiditas yang disuntikkan ke perekonomian
  • Bank sentral global memang sedang jor-joran menyuntikkan likuiditas agar tidak terus mengetat akibat pandemi Covid-19 yang memaksa negara-negara mengambil kebijakan karantina wilayah (lockdown). Dari semua bank sentral di dunia, bank sentral AS (Federal Reserve/The Fed) yang paling agresif. The Fed sudah membabat habis suku bunganya hingga menjadi 0-0,25%, kemudian mengaktifkan kembali program pembelian aset atau yang dikenal dengan quantitative easing (QE) dengan nilai tanpa batas. Berapapun akan digelontorkan agar likuiditas di perekonomian AS tidak mengetat akibat pandemi penyakit virus corona (Covid-19) yang membuat roda perekonomian melambat bahkan nyaris terhenti. Itu baru The Fed, bank sentral lainnya juga menerapkan kebijakan yang sama, bank sentral Australia misalnya, untuk pertama kalinya sepanjang sejarah menerapkan program QE.
  • Di tahun 2008 ketika terjadi krisis finansial global, The Fed dan bank sentral lainnya di Eropa menerapkan kebijakan yang sama, suku bunga rendah serta QE, dampaknya harga emas terus bergerak naik hingga mencapai rekor tertinggi sepanjang masa pada tahun 2011. Saat ini, tidak hanya bank sentral yang mengambil kebijakan agresif. Pemerintah di berbagai negara juga menggelontorkan stimulus fiskal guna menanggulangi Covid-19. Pemerintah AS sudah menggelontorkan stimulus senilai US$ 2 triliun, terbesar sepanjang sejarah. Stimulus moneter dan fiskal tersebut membuat pasar banjir likuiditas, yang menguntungkan bagi emas.
  • Sebelum Djie, Ole Hansen, Kepala Ahli Strategi Komoditas di Saxo Bank lebih dulu memprediksi harga emas akan ke US$ 4.000/US$ dalam jangka panjang. Hansen mengatakan pelaku pasar belum paham sepenuhnya bagaimana dampak kebijakan bank sentral dan pemerintah di berbagai negara ke pasar finansial. “Dari perspektif investasi emas, ini bukan mengenai apa yang terjadi hari ini, besok, atau bulan depan, tetapi apa yang akan terjadi 6 sampai 12 bulan ke depan atau lebih dari itu” kata Hansen, sebagaimana dikutip Kitco. Sebelum mencapai level US$ 4.000/troy ons, Hansen memprediksi di akhir tahun ini harga emas berada di US$ 1.800/troy ons, kemudian mencetak rekor tertinggi di 2021.